Senin, 19 November 2012

Filled Under:

Rugikah Menjadi Setia?

07.49

"Anjrittt, ternyata dia begitu toh. Gw udah berusaha setia, ternyata dia malah selingkuh."

Pernah mengucapkan kalimat tersebut atau dengan variasi lain tetapi intinya tetap sama? Sepertinya puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang di dunia ini pernah mengucapkan kalimat tersebut dengan variasi dan bahasanya masing-masing, baik laki-laki maupun perempuan.

Kalau sudah begitu, sepertinya kesetiaan itu bukan sekedar hal yang percuma tetapi lebih dari itu, kesetiaan menjadi hal yang merugikan untuk kita miliki. Gimana gak rugi, kita mati-matian nahan diri buat gak colak-colek ke cewek atau cowok ok yang bertebaran di kanan-kiri kita, atau bahkan untuk sekedar tebar pesona pun kita menahan diri, ehhh pasangan kita ternyata malah selingkuh.

Fase merasa rugi tersebut biasanya tidak lama kemudian disusul dengan fase menyesal, mendendam, dan akhirnya diikuti oleh pengucapan kalimat magis berikutnya, "gw gak maulah setia-setia lagi, gak ada untungnya. Daripada sakit diselingkuhin, mending gak usah setia (selingkuh duluan)." Tidak jarang pula, kalimat magis tersebut dengan segenap kreatifitas berubah menjadi kalimat nasehat untuk teman-teman kita, dan juga ditanggapi positif oleh teman lainnya. "Setuju, selama belum menikah, kita masih berhak mencari yang terbaik," versi para lajang yang sebenarnya sudah berharap-harap segera menikah. "Setuju, kita berhak juga koq dapet kebahagian, emang dia aja yang berhak," kalau yang ini versi para kaum menikah yang terjebak dalam status dan norma-norma sosial yang memandang miring perceraian.

Lalu kalau sudah begini, apakah memang kesetiaan benar kita buang saja jauh-jauh? Kalau bagi saya tentu jawabannya adalah TIDAK. Ya, kesetiaan bagi saya tetap harus dijaga dan selalu dipertahankan baik bagi para kaum lajang, apalagi bagi para kaum menikah karena setidaknya karena dua hal dibawah ini:

1. Kasta orang setia jauh lebih tinggi daripada kasta para peselingkuh. Menjadi setia tentu bukan hal yang mudah, apalagi dengan beragam fasilitas dan godaan yang ada di jaman canggih seperti ini. Kasta tinggi tentu akan mendapatkan beragam penghargaan lebih dan kemudian akan mendapatkan hal (pasangan) yang tentu saja memiliki nilai yang setara dengannya. Saya yakin, orang yang tidak setia sebenarnya sedang merendahkan dirinya sendiri.

2. Hubungan itu mengenai komitmen. Walau pun masih berstatus pacaran, pasti setiap pasangan sudah pernah berjanji satu dengan yang lainnya untuk saling setia. Apalagi untuk yang sudah menikah, janji yang diucapkan bukan cuma didengar oleh pasangan, tapi juga khalayak ramai berupa teman, saudara, kerabat dan orangtua. Kalau memang sudah tidak cocok atau memang kemudian menyadari ada hal sulit diterima untuk seterusnya, lebih baik bilang aja dehh...coba perbaiki, kasih alasan lengkap kalau perlu sekalian deadline yang jelas bagi pasangan untuk memperbaikinya. Kalau memang gagal untuk diperbaiki dan hal tersebut sangat mengganggu, ya lebih baik putus atau akhiri hubungan dengan berbicara langsung bahwa memang hubungan harus diakhiri. Jadi siapa pun bisa segera mulai mencari pengganti yang "mungkin" lebih baik setelah status "in relationship" itu berakhir.  Sedih dan sakit pasti menghampiri, tapi masih lebih agak mendingan lah daripada tersambar petir di siang hari yang lagi panas terik karena mendengar kabar perselingkuhan pasangan.

Ok, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mau mengakui terlebih dahulu, bahwa saya merupakan salah satu orang yang pernah merasa rugi karena telah setia selama bertahun-tahun. Tapi dengan cepat saya meralat pemikiran tersebut di kepala saya.

Hubungan bukan sebuah balapan yang harus mencapai garis finish, tetapi hubungan adalah sebuah perjuangan dari dua pribadi yang telah mengucapkan janji. Perjuangan untuk memegang janji tersebut bersama-sama. Jadi kalau anda yang tersakiti karena mengalami ketidaksetiaan (diselingkuhi) sedangkan anda tidak ikut-ikutan berselingkuh, saya mengucapkan "selamat" atas perjuangan anda yang telah berhasil.

Menjadi setia sama sekali tidak membuat kita merasakan sebuah kerugian. Sebaliknya, dengan menjadi setia justru menunjukan kelas yang tinggi dari sebuah pribadi.

Sedangkan untuk anda yang berselingkuh dan kemudian menjadi mengakhiri hubungan anda. Wahh...sayang sekali, anda telah melewatkan orang baik yang setia untuk menemani hidup anda.

Bogor, 19 November 2012
Adityo Anugrah Perdana

0 komentar: