Sejak gw dinyatakan lolos seleksi internal Caleg Gerindra
dan nama gw masuk dalam Daftar Calon Sementara (DCS) yg diumumkan oleh KPU, gw
mulai mensosialisasikan diri gw sebagai Caleg minimal ke orang-orang yang
memang sudah kenal dan dekat dengan gw. Tanggapannya memang beragam, tapi ada
satu tanggapan yang pasti diucapkan setiap orang yang mendengar gw nyaleg,
yaitu, "nanti kalo kepilih jangan korupsi ya!" Tanggapan yang sangat
wajar memang, mengingat negara dan bangsa kita gak maju2 karena perilaku korupsi
tetap merajalela bahkan makin berkembang pesat.
Tapi jujur aja, buat gw koq rasanya kurang adil kalo yang disalahkan cuma politisinya, sedangkan perilaku sebagian konstituen/masyarakatnya tidak ikut dinilai. Nahh dalam tulisan ini, gw mau mengajak loe2 semua untuk melihat sisi lain dari awal mula korupsi. Tapi sebelumnya gw wanti2 niy, ini bukan pembenaran atas perilaku korupsi dari para politisi. ini lbh sebagai ajakan untuk melihat sisi lain dr awal korupsi dan nantinya ada sebuah kesadaran bersama dari kita semua. Kl setuju, lanjut baca ya.
Kalo ngga, tutup mata aja dahh ;D
Sebagai awalan, gw mau mengingatkan kita semua bahwa manusia itu semuanya merupakan makhluk ekonomi. Artinya, setiap manusia ingin mendapatkan keuntungan dari setiap tindakannya, ya minimal kalo pun gak bisa dapet untung ya gak rugilah. Benar begitu? Gw yakin semua ngangguk2. Hehehe
Nahh terkait dengan logika tersebut dan kondisi bahwa berpolitik membutuhkan dana, maka adalah wajar ketika seorang politisi yang notabene seorang manusia juga gak mau rugi. Biaya politik yg dia keluarkan pasti sudah diitung2, bisa balik atau ngga. Wajar bukan?
Pasti ada yg langsung nyela, "kalo gak mau berkorban uang ya gak usah berpolitik dong. Siap terjun ke politik, juga harus siap keluar uang. Makanya kl belum kaya jangan berpolitik."
Ok sipp, pernyataan itu ada benarnya tapi juga ada gak benarnya. Kenapa ada benarnya, karena gw juga setuju bahwa politik itu bukan jalan untuk memperkaya diri, tapi jalan untuk mengabdi kepada bangsa, negara, dan masyarakat. Sehingga pengorbanan dalam bentuk waktu, tenaga, dan juga uang adalah hal yang sangat wajar dan harus rela dikeluarkan oleh seorang politisi dalam rangka pengabdiannya.
Tapi ada gak benernya juga pernyataan itu. Kenapa? Karena biaya politik di negeri kita ini semakin lama semakin mahal karena komponen2 biaya yang menurut gw sebenarnya tidak diperlukan. Kenapa tidak diperlukan? Karena sebagian besar komponen dana politik merupakan permintaan/palakan dr masyarakat yang ditemui. Gw sebut palakan krn permintaan tersebut seringkali disertai kode2 atau bahkan "ancaman" yg intinya adalah "kalo anda mau menang di daerah kami, anda penuhi dong permintaan kami. Kalo ngga, masih banyak koq calon lain yang butuh suara kami." Permintaannya apa? Ya mulai dari karpet mesjid, tv untuk di pos ronda, ngaspal jalan, dan macem-macem lainnya deh. Kalo dikasih apa udah pasti suara mereka bisa didapetin, wahh masih belum pasti, masih bisa dihajar oleh serangan fajar di dini hari menjelang hari pencoblosan.
Menyedihkan bukan? Buat gw siy sangat menyedihkan. Kenapa? Karena kalo menurut gw, yang namanya kampanye itu seharusnya merupakan pertarungan ideologi, visi, misi, dan rencana program kalo nanti terpilih. Bukan pertarungan tebar menebar uang. Uang untuk kampanye pasti tetap keluar krn sosialisasi ideologi, visi, misi dan rancangan program pasti juga butuh biaya, mulai dari cetak visi misi, beli konsumsi pas ngumpul sama warga, sampe uang transport tim sukses. Tapi tentu saja jumlahnya gak bakal tinggi banget. Dan kalau masyarakat gak mau milih ya lebih karena visi, misi, dan proker si politisi masih blm bagus di mata masyarakat, bukan karena kalah uang.
Cuma sayangnya sebagian masyarakat kita, masih menganggap masa kampanye sebagai masa untuk meminta banyak hal ke politisi2 yg sedang bertarung, bukan sebagai masa untuk mengenal mereka lebih dalam melalui visi, misi, dan prokernya. Akibatnya, politisi yang sedang nyaleg atau jadi calon di pilkada, berusaha untuk menyiapkan dana kampanye yang luar biasa ketimbang menyiapkan visi, misi, dan proker yg baik. Dan dengan logika sebagai makhluk ekonomi, tentu saja si politisi tadi juga akan memikirkan agar dana yang luar biasa besar tadi bisa kembali. Nahh...kalo gaji yg didapatkan sebagai anggota legislatif, walikota, bupati, or gubernur tidak sebanding dengan yg sudah dikeluarkan sangat mungkin dia menjadi tergoda untuk korupsi. Atau jangan-jangan bukan tergoda, tapi skema korupsi memang sudah dipikirkan sejak awal dia mau maju sebagai calon.
Ok, sekarang sebagai penutup, gw mau menyampaikan maksud dari tulisan gw diatas.
1. Gw mau kita melihat bersama, bahwa salah satu penyebab korupsi yg dilakukan politisi itu adalah biaya politik tinggi yang harus dikeluarkan. Karena itu kita semua sebagai masyarakat hendaknya tidak ikut mendorong hal tersebut. Caranya, mudah, jangan minta seorang politisi yang sedang berkampanye untuk menyumbang berbagai macam keperluan. Kalau memang ada masalah atau kebutuhan dari kelompok masyarakat, tidak masalah untuk disampaikan. Politisi yg kreatif dan memang peduli, akan bersama-sama masyarakat mencari solusi dari permasalahan atau kebutuhan tersebut, bukan tampil dengan uang pribadi untuk mengatasinya.
2. Ayo kita mulai pilah-pilih politisi yang sedang berkampanye berdasarkan visi, misi, dan programnya. Lebih baik lagi, luangkan waktu untuk mencari tahu track record para politisi. Politisi dengan visi, misi, dan proker yang bagus lah yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Politisi yang hanya memberikan barang atau menebar uang mungkin bisa memberikan solusi sesaat, tapi itu hanya jangka pendek. Setelah terpilih Ia hanya akan sibuk mengembalikan modal yang sudah ia keluarkan bukan bekerja untuk rakyat, tentu saja salah satunya dengan korupsi.
3. Untuk kaum muda Indonesia, ayo jadi pelopor pemilih yang cerdas, jangan ragu menolak politik uang. Ajak teman, pacar, gebetan, keluarga dan semuanya untuk semakin cerdas dalam memilih.
Dengan menolak politik uang, dengan tidak meminta kepada politisi yg sedang berkampanye secara berlebihan, kita telah membantu mencegah politik dengan biaya tinggi dan tentu saja kita sudah ikut mencegah korupsi.
Ayo bergerak bersama demi Indonesia Raya.
Tapi jujur aja, buat gw koq rasanya kurang adil kalo yang disalahkan cuma politisinya, sedangkan perilaku sebagian konstituen/masyarakatnya tidak ikut dinilai. Nahh dalam tulisan ini, gw mau mengajak loe2 semua untuk melihat sisi lain dari awal mula korupsi. Tapi sebelumnya gw wanti2 niy, ini bukan pembenaran atas perilaku korupsi dari para politisi. ini lbh sebagai ajakan untuk melihat sisi lain dr awal korupsi dan nantinya ada sebuah kesadaran bersama dari kita semua. Kl setuju, lanjut baca ya.
Kalo ngga, tutup mata aja dahh ;D
Sebagai awalan, gw mau mengingatkan kita semua bahwa manusia itu semuanya merupakan makhluk ekonomi. Artinya, setiap manusia ingin mendapatkan keuntungan dari setiap tindakannya, ya minimal kalo pun gak bisa dapet untung ya gak rugilah. Benar begitu? Gw yakin semua ngangguk2. Hehehe
Nahh terkait dengan logika tersebut dan kondisi bahwa berpolitik membutuhkan dana, maka adalah wajar ketika seorang politisi yang notabene seorang manusia juga gak mau rugi. Biaya politik yg dia keluarkan pasti sudah diitung2, bisa balik atau ngga. Wajar bukan?
Pasti ada yg langsung nyela, "kalo gak mau berkorban uang ya gak usah berpolitik dong. Siap terjun ke politik, juga harus siap keluar uang. Makanya kl belum kaya jangan berpolitik."
Ok sipp, pernyataan itu ada benarnya tapi juga ada gak benarnya. Kenapa ada benarnya, karena gw juga setuju bahwa politik itu bukan jalan untuk memperkaya diri, tapi jalan untuk mengabdi kepada bangsa, negara, dan masyarakat. Sehingga pengorbanan dalam bentuk waktu, tenaga, dan juga uang adalah hal yang sangat wajar dan harus rela dikeluarkan oleh seorang politisi dalam rangka pengabdiannya.
Tapi ada gak benernya juga pernyataan itu. Kenapa? Karena biaya politik di negeri kita ini semakin lama semakin mahal karena komponen2 biaya yang menurut gw sebenarnya tidak diperlukan. Kenapa tidak diperlukan? Karena sebagian besar komponen dana politik merupakan permintaan/palakan dr masyarakat yang ditemui. Gw sebut palakan krn permintaan tersebut seringkali disertai kode2 atau bahkan "ancaman" yg intinya adalah "kalo anda mau menang di daerah kami, anda penuhi dong permintaan kami. Kalo ngga, masih banyak koq calon lain yang butuh suara kami." Permintaannya apa? Ya mulai dari karpet mesjid, tv untuk di pos ronda, ngaspal jalan, dan macem-macem lainnya deh. Kalo dikasih apa udah pasti suara mereka bisa didapetin, wahh masih belum pasti, masih bisa dihajar oleh serangan fajar di dini hari menjelang hari pencoblosan.
Menyedihkan bukan? Buat gw siy sangat menyedihkan. Kenapa? Karena kalo menurut gw, yang namanya kampanye itu seharusnya merupakan pertarungan ideologi, visi, misi, dan rencana program kalo nanti terpilih. Bukan pertarungan tebar menebar uang. Uang untuk kampanye pasti tetap keluar krn sosialisasi ideologi, visi, misi dan rancangan program pasti juga butuh biaya, mulai dari cetak visi misi, beli konsumsi pas ngumpul sama warga, sampe uang transport tim sukses. Tapi tentu saja jumlahnya gak bakal tinggi banget. Dan kalau masyarakat gak mau milih ya lebih karena visi, misi, dan proker si politisi masih blm bagus di mata masyarakat, bukan karena kalah uang.
Cuma sayangnya sebagian masyarakat kita, masih menganggap masa kampanye sebagai masa untuk meminta banyak hal ke politisi2 yg sedang bertarung, bukan sebagai masa untuk mengenal mereka lebih dalam melalui visi, misi, dan prokernya. Akibatnya, politisi yang sedang nyaleg atau jadi calon di pilkada, berusaha untuk menyiapkan dana kampanye yang luar biasa ketimbang menyiapkan visi, misi, dan proker yg baik. Dan dengan logika sebagai makhluk ekonomi, tentu saja si politisi tadi juga akan memikirkan agar dana yang luar biasa besar tadi bisa kembali. Nahh...kalo gaji yg didapatkan sebagai anggota legislatif, walikota, bupati, or gubernur tidak sebanding dengan yg sudah dikeluarkan sangat mungkin dia menjadi tergoda untuk korupsi. Atau jangan-jangan bukan tergoda, tapi skema korupsi memang sudah dipikirkan sejak awal dia mau maju sebagai calon.
Ok, sekarang sebagai penutup, gw mau menyampaikan maksud dari tulisan gw diatas.
1. Gw mau kita melihat bersama, bahwa salah satu penyebab korupsi yg dilakukan politisi itu adalah biaya politik tinggi yang harus dikeluarkan. Karena itu kita semua sebagai masyarakat hendaknya tidak ikut mendorong hal tersebut. Caranya, mudah, jangan minta seorang politisi yang sedang berkampanye untuk menyumbang berbagai macam keperluan. Kalau memang ada masalah atau kebutuhan dari kelompok masyarakat, tidak masalah untuk disampaikan. Politisi yg kreatif dan memang peduli, akan bersama-sama masyarakat mencari solusi dari permasalahan atau kebutuhan tersebut, bukan tampil dengan uang pribadi untuk mengatasinya.
2. Ayo kita mulai pilah-pilih politisi yang sedang berkampanye berdasarkan visi, misi, dan programnya. Lebih baik lagi, luangkan waktu untuk mencari tahu track record para politisi. Politisi dengan visi, misi, dan proker yang bagus lah yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Politisi yang hanya memberikan barang atau menebar uang mungkin bisa memberikan solusi sesaat, tapi itu hanya jangka pendek. Setelah terpilih Ia hanya akan sibuk mengembalikan modal yang sudah ia keluarkan bukan bekerja untuk rakyat, tentu saja salah satunya dengan korupsi.
3. Untuk kaum muda Indonesia, ayo jadi pelopor pemilih yang cerdas, jangan ragu menolak politik uang. Ajak teman, pacar, gebetan, keluarga dan semuanya untuk semakin cerdas dalam memilih.
Dengan menolak politik uang, dengan tidak meminta kepada politisi yg sedang berkampanye secara berlebihan, kita telah membantu mencegah politik dengan biaya tinggi dan tentu saja kita sudah ikut mencegah korupsi.
Ayo bergerak bersama demi Indonesia Raya.

0 komentar:
Posting Komentar