Selasa, 22 Juli 2014

Filled Under:

Niat Baik dalam Politik

06.13

Ada hal yang mengusik gw dari pilpres kali ini. Gw jadi berpikir bahwa ternyata dalam politik, melaksanakan niat baik pun kita harus berhati-hati. Kenapa begitu? Karena gw teringat akan kondisi jelang Pilkada DKI tahun 2012 dan sikap Pak Prabowo pada saat itu.

Gw masih ingat, bahwa pada saat itu Gerindra sebenarnya sudah hampir mendukung Foke secara resmi sebagai cagub. Tetapi sebagian kalangan di internal Gerindra terutama kader muda Gerindra berupaya mendorong Pak Prabowo untuk mencari sosok alternatif. Aspirasi tersebut pun coba disampaikan secara langsung mau pun melalui mention kepada beliau di twitter.

Ternyata kemudian Pak Prabowo menanggapi. Beliau mulai mencari sosok alternatif yang dianggap bisa lebih baik daripada Foke, dan beliau menemukan Jokowi. Karena Jokowi kader PDI Perjuangan, Pak Prabowo kemudia menemui Megawati sebagai Ketum PDIP. Ternyata saat itu PDIP kabarnya sudah akan mengusung Foke dan bahkan sudah mengusulkan nama cawagub.

"Jokowi gak ada uangnya, mau maju pake apa?" tapi Pak Prabowo menjawab, "Kalau soal uang, kita bisa cari sama-sama."

Kemudian dicarilah sosok cawagub yang akan mendampingi Jokowi. Ketemulah Ahok yang saat itu merupakan anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar. Seperti yang kemudian kita ketahui bersma, Jokowi-Ahok kemudian maju dalam Pilkada DKI dan memenangkannya.

Apakah Pak Prabowo sekedar mencari bersama dana kampanye yang diperlukan? Ternyata beliau dan Pak Hashim adiknya juga ikut banyak membiayai.

Dan kini, dalam pilpres 2014, Jokowi ternyata justru ikut maju sebagai capres melawan Pak Prabowo yang dulu ikut membesarkannya. Lalu Ahok? Dia memang mengatakan bahwa ia mendukung Pak Prabowo, tetapi apakah ia benar sepenuhnya berupaya memenangkan Pak Prabowo? Silahkan nilai sendiri.

Ketika sebagian kader muda Gerindra kemudian menyesali dulu mengusung dan mendukung Jokowi-Ahok, jawabannya, "Niat baik tidak boleh disesali."

Iya, kami tidak boleh menyesali niat baik tersebut, meski di depan mata kami Pak Prabowo dan pendukungnya dibully di social media sepanjang pilpres.


Jakarta, 22 Juli 2014
Adityo Anugrah Perdana

0 komentar: