Nuansa Pilkada sudah merebak nyaris ke seluruh Indonesia, tak terkecuali DKI Jakarta. Padahal sebenarnya, Pilkada atau lebih tepatnya Pilgub DKI Jakarta baru akan diselenggarakan tahun 2017 nanti. Masih cukup lama, dan proses resminya bahkan belum mulai dilaksanakan oleh KPUD DKI Jakarta. Meski begitu, nama-nama politisi yang kemungkinan akan bertarung di Pilgub DKI Jakarta sudah mulai bermunculan atau setidaknya, mulai sayup-sayup terdengar dari telinga ke telinga.
Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) selaku Gubernur incumbent (sedang menjabat sebagai kepala daerah dan hendak ikut pilkada) tentu menjadi salah satu yang hangat dibicarakan. Popularitas dan elektabilitas Ahok selaku incumbent sudah sewajarnya cukup tinggi. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, lewat kendaraan politik apakah Ahok dalam Pilgub DKI yang akan datang? Ya, pasca keluarnya Ahok dari Partai Gerindra pada 2014 yang lalu, sampai kini Ahok memang belum menjadi anggota salah satu parpol pun. Padahal, diusung oleh parpol merupakan cara utama bagi seorang politisi atau individu yang ingin maju dalam sebuah pilkada.
Isu yang berkembang kemudian adalah Ahok akan maju sebagai calon independen. Itu artinya, Ahok akan maju tanpa dukungan dari salah satu parpol pun, dan tentu saja memerlukan dukungan dari masyarakat DKI Jakarta berupa fotokopi KTP dan tantangan basah (asli) dari pada individu yang mau mendukungnya.
Merespon hal tersebut, sebuah kelompok yang mengaku sebagai relawan pendukung Ahok kemudian muncul dengan nama Teman Ahok pada bulan Juni 2015 atau satu setengah tahun jelang Pilgub DKI Jakarta. Melalui video animasi yang mereka luncurkan, Teman Ahok berniat mengumpulkan 1 juta dukungan untuk Ahok agar dapat maju sebagai calon independen seperti yang sudah diwacanakan.
Menurut mereka, hal tersebut merupakan hal yang berat, sehingga start lebih awal sangat perlu diambil demi ketersediaan waktu yang cukup. Argumen yang terkesan masuk akal, tapi sebenarnya menyesatkan. Kenapa menyesatkan? Teman Ahok menggalang dukungan, bahkan dengan target fantastis, hanya untuk mendukung seorang Ahok. Saya tidak tahu, mereka lupa atau atau pura-pura lupa bahwa dalam sebuah Pilkada yang bertarung adalah pasangan calon. Dalam konteks Pilgub DKI, maka yang akan bertarung adalah pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur. Lalu dengan siapa Ahok akan maju?
Teman Ahok boleh saja percaya bahwa Ahok adalah calon terbaik untuk menjadi Gubernur. Tapi apa yang dilakukan oleh Teman Ahok sebenarnya juga bernuansa ajakan bagi warga DKI Jakarta untuk membeli kucing dalam karung. Bila dukungan 1 juta warga DKI Jakarta benar-benar terkumpul bagi Ahok, lalu siapa yang akan menjadi Calon Wakil Gubernur yang akan mendampingi Ahok? Siapa yang berhak menentukan cawagub yang akan maju bersama Ahok? Bagaimana bila ternyata cawagub yang maju mendampingi Ahok adalah sosok yang dinilai tidak pantas maju dalam pilkada DKI, sementara dukungan (baca: tiket) untuk maju pilkada DKI sudah di berada di tangan Ahok dan siap digunakan untuk maju.
Jadi, menurut saya langkah yang diambil oleh Tim Relawan Teman Ahok adalah langkah kepagian yang kurang tepat. Apabila Ahok memang dinilai sebagai salah satu kandidat dengan kemampuan yang baik, tidak perlu takut untuk tidak mendapatkan dukungan. Rasanya akan lebih baik bila semua masyarakat Jakarta saat ini lebih fokus untuk mencari kandaidat-kandidat yang dinilai layak maju di Pilkada DKI 2017 baik sebagai Calon Gubernur maupun Calon Wakil Gubernur.
Saya yakin, dengan fokus mencari, menelaah, dan kemudian mendorong insan-insan terbaik bangsa untuk maju dalam Pilkada DKI 2017 akan lebih baik ketimbang sudah fokus untuk mendukung hanya satu calon saja. Apabila seluruh pasangan calon yang nanti maju sudah merupakan insan-insan terbaik, kita sudah tidak perlu khawatir bukan?
Jakarta, 28 Juli 2015
Adityo Anugrah Perdana

0 komentar:
Posting Komentar