Setidaknya ada dua hari peringatan penting yang menarik perhatian kita selama seminggu yang lalu. Yang pertama, tanggal 1 Juni, peringatan Hari Pancasila. Sayangnya peringatan tersebut dinodai dengan aksi penyerangan oleh Front Pembela Islam (FPI) kepada para aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang sedang mengadakan aksi di Monas. Yang kedua, peringatan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni. Sayangnya momen hari Lingkungan Hidup kali ini kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat, karena kalah penting oleh isu penyerangan AKKBB oleh FPI atau protes terhadap kenaikan BBM.
Lalu apa yang dapat kita petik dari kedua peristiwa tersebut? Peristiwa pertama menunjukan, hingga saat ini kita masih belum mampu menghargai perbedaan yang ada terutama perbedaan keyakinan, walaupun sebagai bangsa Indonesia kita mengaku berlandaskan Pancasila yang menjunjung tinggi keberagaman. Peristiwa kedua, menunjukan bahwa sebagai makhluk hidup yang tinggal di bumi, hingga saat ini kita masih belum juga memiliki keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan hidup yang semakin lama semakin parah. Padahal harus diakui kita sangat bergantung pada alam, walau kita juga yang merusaknya.
Karena itu sudah waktunya kita tidak lagi membangun kerukunan antar umat hanya dengan seminar dan dialog “masuk kuping kanan, keluar kuping kiri”. Sudah waktunya pula kita tidak lagi berupaya menyelamatkan lingkungan hanya dengan penyuluhan-penyuluhan yang membosankan tanpa hasil. Sudah saatnya kita mulai menggalang kebersamaan lintas agama, kepercayaan, suku, golongan, bahkan etnis dalam satu gerakan yang komprehensif untuk menyelamatkan lingkungan.
Bukankah dengan berkerjasama, individu-individu yang terlibat di dalamnya akan menjadi lebih saling mengenal? Sehingga dengan demikian, kerukunan dapat terbangun sekaligus berupaya melestarikan lingkungan. Bukankan bumi kita hanya satu?
Selamat Hari Lingkungan Hidup!