Portfolio

Our Blog

The outline of what we do in this site

Selasa, 28 Juli 2015

Pilkada DKI 2017 dan Kucing dalam Karung

Nuansa Pilkada sudah merebak nyaris ke seluruh Indonesia, tak terkecuali DKI Jakarta. Padahal sebenarnya, Pilkada atau lebih tepatnya Pilgub DKI Jakarta baru akan diselenggarakan tahun 2017 nanti. Masih cukup lama, dan proses resminya bahkan belum mulai dilaksanakan oleh KPUD DKI Jakarta. Meski begitu, nama-nama politisi yang kemungkinan akan bertarung di Pilgub DKI Jakarta sudah mulai bermunculan atau setidaknya, mulai sayup-sayup terdengar dari telinga ke telinga.

Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) selaku Gubernur incumbent (sedang menjabat sebagai kepala daerah dan hendak ikut pilkada) tentu menjadi salah satu yang hangat dibicarakan. Popularitas dan elektabilitas Ahok selaku incumbent sudah sewajarnya cukup tinggi. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, lewat kendaraan politik apakah Ahok dalam Pilgub DKI yang akan datang? Ya, pasca keluarnya Ahok dari Partai Gerindra pada 2014 yang lalu, sampai kini Ahok memang belum menjadi anggota salah satu parpol pun. Padahal, diusung oleh parpol merupakan cara utama bagi seorang politisi atau individu yang ingin maju dalam sebuah pilkada.

Isu yang berkembang kemudian adalah Ahok akan maju sebagai calon independen. Itu artinya, Ahok akan maju tanpa dukungan dari salah satu parpol pun, dan tentu saja memerlukan dukungan dari masyarakat DKI Jakarta berupa fotokopi KTP dan tantangan basah (asli) dari pada individu yang mau mendukungnya.
Merespon hal tersebut, sebuah kelompok yang mengaku sebagai relawan pendukung Ahok kemudian muncul dengan nama Teman Ahok pada bulan Juni 2015 atau satu setengah tahun jelang Pilgub DKI Jakarta. Melalui video animasi yang mereka luncurkan, Teman Ahok berniat mengumpulkan 1 juta dukungan untuk Ahok agar dapat maju sebagai calon independen seperti yang sudah diwacanakan.

Menurut mereka, hal tersebut merupakan hal yang berat, sehingga start lebih awal sangat perlu diambil demi ketersediaan waktu yang cukup. Argumen yang terkesan masuk akal, tapi sebenarnya menyesatkan. Kenapa menyesatkan? Teman Ahok menggalang dukungan, bahkan dengan target fantastis, hanya untuk mendukung seorang Ahok. Saya tidak tahu, mereka lupa atau atau pura-pura lupa bahwa dalam sebuah Pilkada yang bertarung adalah pasangan calon. Dalam konteks Pilgub DKI, maka yang akan bertarung adalah pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur. Lalu dengan siapa Ahok akan maju?

Teman Ahok boleh saja percaya bahwa Ahok adalah calon terbaik untuk menjadi Gubernur. Tapi apa yang dilakukan oleh Teman Ahok sebenarnya juga bernuansa ajakan bagi warga DKI Jakarta untuk membeli kucing dalam karung. Bila dukungan 1 juta warga DKI Jakarta benar-benar terkumpul bagi Ahok, lalu siapa yang akan menjadi Calon Wakil Gubernur yang akan mendampingi Ahok? Siapa yang berhak menentukan cawagub yang akan maju bersama Ahok? Bagaimana bila ternyata cawagub yang maju mendampingi Ahok adalah sosok yang dinilai tidak pantas maju dalam pilkada DKI, sementara dukungan (baca: tiket) untuk maju pilkada DKI sudah di berada di tangan Ahok dan siap digunakan untuk maju.

Jadi, menurut saya langkah yang diambil oleh Tim Relawan Teman Ahok adalah langkah kepagian yang kurang tepat. Apabila Ahok memang dinilai sebagai salah satu kandidat dengan kemampuan yang baik, tidak perlu takut untuk tidak mendapatkan dukungan. Rasanya akan lebih baik bila semua masyarakat Jakarta saat ini lebih fokus untuk mencari kandaidat-kandidat yang dinilai layak maju di Pilkada DKI 2017 baik sebagai Calon Gubernur maupun Calon Wakil Gubernur.

Saya yakin, dengan fokus mencari, menelaah, dan kemudian mendorong insan-insan terbaik bangsa untuk maju dalam Pilkada DKI 2017 akan lebih baik ketimbang sudah fokus untuk mendukung hanya satu calon saja. Apabila seluruh pasangan calon yang nanti maju sudah merupakan insan-insan terbaik, kita sudah tidak perlu khawatir bukan?

Jakarta, 28  Juli 2015 Adityo Anugrah Perdana

Selasa, 22 Juli 2014

Niat Baik dalam Politik

Ada hal yang mengusik gw dari pilpres kali ini. Gw jadi berpikir bahwa ternyata dalam politik, melaksanakan niat baik pun kita harus berhati-hati. Kenapa begitu? Karena gw teringat akan kondisi jelang Pilkada DKI tahun 2012 dan sikap Pak Prabowo pada saat itu.

Gw masih ingat, bahwa pada saat itu Gerindra sebenarnya sudah hampir mendukung Foke secara resmi sebagai cagub. Tetapi sebagian kalangan di internal Gerindra terutama kader muda Gerindra berupaya mendorong Pak Prabowo untuk mencari sosok alternatif. Aspirasi tersebut pun coba disampaikan secara langsung mau pun melalui mention kepada beliau di twitter.

Ternyata kemudian Pak Prabowo menanggapi. Beliau mulai mencari sosok alternatif yang dianggap bisa lebih baik daripada Foke, dan beliau menemukan Jokowi. Karena Jokowi kader PDI Perjuangan, Pak Prabowo kemudia menemui Megawati sebagai Ketum PDIP. Ternyata saat itu PDIP kabarnya sudah akan mengusung Foke dan bahkan sudah mengusulkan nama cawagub.

"Jokowi gak ada uangnya, mau maju pake apa?" tapi Pak Prabowo menjawab, "Kalau soal uang, kita bisa cari sama-sama."

Kemudian dicarilah sosok cawagub yang akan mendampingi Jokowi. Ketemulah Ahok yang saat itu merupakan anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar. Seperti yang kemudian kita ketahui bersma, Jokowi-Ahok kemudian maju dalam Pilkada DKI dan memenangkannya.

Apakah Pak Prabowo sekedar mencari bersama dana kampanye yang diperlukan? Ternyata beliau dan Pak Hashim adiknya juga ikut banyak membiayai.

Dan kini, dalam pilpres 2014, Jokowi ternyata justru ikut maju sebagai capres melawan Pak Prabowo yang dulu ikut membesarkannya. Lalu Ahok? Dia memang mengatakan bahwa ia mendukung Pak Prabowo, tetapi apakah ia benar sepenuhnya berupaya memenangkan Pak Prabowo? Silahkan nilai sendiri.

Ketika sebagian kader muda Gerindra kemudian menyesali dulu mengusung dan mendukung Jokowi-Ahok, jawabannya, "Niat baik tidak boleh disesali."

Iya, kami tidak boleh menyesali niat baik tersebut, meski di depan mata kami Pak Prabowo dan pendukungnya dibully di social media sepanjang pilpres.


Jakarta, 22 Juli 2014
Adityo Anugrah Perdana

Minggu, 13 Juli 2014

#SuratUntukPrabowo


#SuratUntukPrabowo adalah hashtag yang sejak kemarin menarik perhatian gw. Awalnya gw pikir cuma hashtag yang dibuat untuk tweet-tweet pendek yang ditujukan kepada Pak Prabowo, tapi ternyata, yang ada di twitter itu cuma kutipan-kutipan singkat dari surat-surat sebenarnya dengan versi yang lebih panjang yang ditampilkan di tumblr. Ok, boleh lah, pendukung capres nomor 2 memang niat ternyata memainkan hashtag tersebut.

Tapi yang paling menarik adalah gaya bahasa yang dipakai, surat-surat yang kebetulan gw baca, semuanya menggunakan bahasa yang sungguh terkesan positif. Mereka memuji Pak Prabowo lengkap dengan kelebihan-kelebihannya, namun pada akhir surat mereka meminta Pak Prabowo untuk mengakui dan menerima saja kekalahan dalam pilpres kali ini.
Menanggapi hal tersebut, kepada kawan-kawan yang berada di sebelah sana, ada beberapa hal yang mau gw ungkapkan:

  1. Setau gw niy, kita semua sama-sama lagi menunggu pengumuman resmi dari KPU mengenai hasil pilpres kali ini, dan hal itu akan dilaksanakan pada tanggal 22 Juli. Tinggal 8 hari lagi koq, masa iya gak bisa sabar nungguin.
  2. Dalam surat-surat yang gw baca, dikesankan bahwa Pak Prabowo adalah sosok kandidat capres yang akan tidak siap untuk menerima kekalahan, padahal sudah jauh-jauh hari bahkan sejak tanggal 3 Juni 2014 saat pengambilan nomor urut peserta pilpres, Pak Prabowo sudah menyatakan bahwa beliau akan siap menerima kekalahan. Justru sebaliknya, gw belum pernah mendengar atau membaca berita yang berisi pernyataan bahwa Pak Jokowi siap kalah. Silahkan kasih ke gw link beritanya kalau ternyata Pak Jokowi pernah menyatakan bahwa dirinya siap kalah dalam pilpres kali ini
  3. Kebetulan ada moment ini, gw juga mau sekalian nanya juga ke Pak Jokowi, kenapa beliau belum juga mundur sebagai Gubernur DKI Jakarta kalau memang beliau sudah yakin bawah beliau adalah pemenang pilpres kali ini. Mungkin Pak Jokowi gak mau jawab pertanyaan gw ini, karena gw bukanlah siapa-siapa, tapi mungkin ada dari pada pendukungnya yang mau mencoba menjelaskan hal tersebut.

Ok, tiga poin itu yang mau gw sampaikan. Mungkin ada yang mau menanggapi, bisa mention gw di @adityoanugrah atau kasih komen di postingan tulisan ini dengan semangat “kalo beda jangan sensi”.

@adityoanugrah
Fb.com/AdityoAnugrahP

Senin, 09 Juni 2014

Mari Menilai Calon Presiden Kita

Selamat sore sahabat, pada hari ini tanggal 9 Juni 2014, akan diadakan debat Calon Presiden untuk yang pertama kalinya antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo dengan tema Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan Penegakan Hukum.

Bagi saya dan teman-teman yang merupakan kader partai politik, mungkin debat kandidat tidak banyak mempengaruhi preferensi capres. Tapi bagi mayoritas teman-teman yang bukan kader parpol, ajang debat kandidat merupakan sarana untuk menilai kemampuan dan kemana arah pemerintahan dari masing-masing capres.

Perlu diingat bahwa Presiden Indonesia menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai kepala negara dan sebagai kepala pemerintahan. Sebagai kepala negara, Presiden harus mampu menjadi simbol negara yang layak dibanggakan untuk ke dalam dan ke luar negeri. Sebagai kepala pemerintahan, Presiden  harus memiliki arah yang pemerintahan yang jelas dan kemampuan untuk memimpin birokrasi dan aparat-aparat pemerintahan yang ada.

Melalui debat kandidat, apalagi debat kandidat ini disiarkan secara langsung oleh tiga stasiun televisi, kita semua akan dapat melihat kedua capres bagi dari sisi pemikiran, visi, misi, bahkan gerak dan bahasa tubuhnya. Indikator-indikator yang setidaknya mampu mamberikan kita gambaran mengenai kemampuan masing-masing capres apabila nantinya mendapat kepercayaan untuk memimpin Indonesia.

Seperti yang diatas gw sampaikan, gw sangat sadar bagi kader parpol kemungkinan menggeser pilihan sepertinya sangat kecil, tapi melalui tulisan ini, gw mengajak teman-teman yang bukan kader parpol dan justru merupakan mayoritas, untuk menilai secara objektif performa masing-masing capres dalam debat kandidat sebagai acuan untuk memilih pada tanggal 9 Juli 2014 nanti. Lupakan kampanye-kampanye hitam yang banyak bertebaran selama ini, mari kita lihat dan nilai secara objektif.

Jakarta, 9 Juni 2014

Adityo Anugrah Perdana

Jumat, 10 Januari 2014

Menjaga Dukungan

Dari hasil gw muter-muter, ketemu banyak orang, ngobrol sana-sini, gw semakin pede dengan raihan suara yang aka  gw dapatkan di Pemilu Legislatif, 9 April 2014 yang akan datang. Gw sudah bisa memprediksi suara yang gw dapatkan setidaknya dalam hitung-hitungan di atas kertas. Bahkan dari beberapa elemen yg memang solid, gw bisa mendapatkan data orang-orang yang akan memilih gw secara rigid, mulai dari nama, alamat, sampai nomor handphonenya. Jumlah pemilih yang gw yakini masih akan terus bertambah.

Tapi walau demikian, gw tetap gak bisa bersantai, karena ini semua masih hitung-hitungan di atas kertas. Hal yang tidak diinginkan masih bisa terjadi. Gw masih punya PR besar untuk memastikan semua anggota elemen yang dipastikan memilih gw tersebut memang akan datang ke TPS. Tidak ketiduran atau bahkan malah jalan-jalan ke luar kota. Di beberapa elemen yang lain juga gw perlu untuk memastikan mereka tetap loyal dan menolak money politic berupa sembako gratis atau amplop-amplop serangan fajar.

Setiap elemen memiliki satu atau lebih orang-orang berpengaruh yang sangat perlu gw jaga terus komunikasi dengan mereka. Mereka harus nyaman dan tetap percaya untuk mendukung gw. Ya, gw sangat sadar bahwa tidak ada dukungan yang abadi. Setiap bentuk dukungan diatas kertas harus ditransformasikan terlebih dahulu dalam tindakan riil sesuai dengan kebutuhan. Jadi adalah hal yang sangat salah bila kini, gw hanya fokus mencari dukungan tambahan tanpa menjaga yang sudah ada apalagi mulai bersantai karena merasa sudah memiliki cukup dukungan. Kerja keras masih harus terus dilaksanakan. Jadi...mohon dukungannya  :0

Adityo Anugrah Perdana
89 hari menuju Pemilu Legislatif 2014