Minggu, 08 Juni 2008

Satu Bumi Untuk Semua

Setidaknya ada dua hari peringatan penting yang menarik perhatian kita selama seminggu yang lalu. Yang pertama, tanggal 1 Juni, peringatan Hari Pancasila. Sayangnya peringatan tersebut dinodai dengan aksi penyerangan oleh Front Pembela Islam (FPI) kepada para aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang sedang mengadakan aksi di Monas. Yang kedua, peringatan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni. Sayangnya momen hari Lingkungan Hidup kali ini kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat, karena kalah penting oleh isu penyerangan AKKBB oleh FPI atau protes terhadap kenaikan BBM.

Lalu apa yang dapat kita petik dari kedua peristiwa tersebut? Peristiwa pertama menunjukan, hingga saat ini kita masih belum mampu menghargai perbedaan yang ada terutama perbedaan keyakinan, walaupun sebagai bangsa Indonesia kita mengaku berlandaskan Pancasila yang menjunjung tinggi keberagaman. Peristiwa kedua, menunjukan bahwa sebagai makhluk hidup yang tinggal di bumi, hingga saat ini kita masih belum juga memiliki keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan hidup yang semakin lama semakin parah. Padahal harus diakui kita sangat bergantung pada alam, walau kita juga yang merusaknya.

Karena itu sudah waktunya kita tidak lagi membangun kerukunan antar umat hanya dengan seminar dan dialog “masuk kuping kanan, keluar kuping kiri”. Sudah waktunya pula kita tidak lagi berupaya menyelamatkan lingkungan hanya dengan penyuluhan-penyuluhan yang membosankan tanpa hasil. Sudah saatnya kita mulai menggalang kebersamaan lintas agama, kepercayaan, suku, golongan, bahkan etnis dalam satu gerakan yang komprehensif untuk menyelamatkan lingkungan.

Bukankah dengan berkerjasama, individu-individu yang terlibat di dalamnya akan menjadi lebih saling mengenal? Sehingga dengan demikian, kerukunan dapat terbangun sekaligus berupaya melestarikan lingkungan. Bukankan bumi kita hanya satu?

Selamat Hari Lingkungan Hidup!

Minggu, 04 Mei 2008

Ketika Kemiskinan Di Depan Mataku

Selama Maret - April yang lalu, aku berkesempatan untuk mengunjungi Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Alor, dan Lembata. Berbagai pengalaman menarik aku alami dalam kesempatan tersebut, salah satunya aku menyaksikan kemiskinan yang hampir merata di seluruh di daerah yang aku kunjungi. Ketika aku menyempatkan diri melihat data di internet, ternyata angka kemiskinan di NTT memang mencapai angka 58,19% atau sebanyak 554.015 keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Perasaanku rasanya terusik dengan kondisi tersebut, terlebih aku juga menyaksikan bagaimana kehidupan para pejabat pemerintahan di NTT yang begitu makmurnya, kontras dengan kehidupan warganya. Aku juga berkesempatan hadir dalam rapat para pejabat termasuk dengan para anggota DPRD yang terhormat yang mengevaluasi program mereka untuk mengembangkan pendidikan di NTT, tetapi anehnya rapat yang katanya rapat evaluasi tersebut sama sekali tidak didasarkan dengan data-data yang sebenarnya sudah tersedia (walau pun validitasnya juga saya ragukan), sehingga rapat tersebut dengan cepat berubah menjadi ajang perdebatan antar para pejabat yang bagi saya sangat tidak mendasar. Pembahasan-pembahasan tampak hanya berdasarkan "feeling" pribadi mereka masing-masing. Semua peserta rapat tampak hanya mempertahankan gengsi pribadi mereka masing-masing ketimbang berusaha membahas permasalahan yang dihadapi rakyat.
Rasanya miris, bila ternyata para pejabat Indonesia dari pusat hingga daerah hanya berupaya mempertahankan harta dan kekuasaan mereka. Tampaknya moment 100 tahun Kebangkitan Nasional yang rajin didengung-dengungkan oleh banyak pihak hanya akan berlalu begitu saja.
Mungkin benar, bila kita harus segera melakukan revolusi kepemimpinan. Revolusi yang mampu memotong tongkat estafet kepemimpinan hingga generasi baru yang tidak terkait dengan dosa masa lalu lah yang memimpin bangsa ini.
Tapi bila pun pengandaian itu terjadi, lagi-lagi kekhawatiran kembali menyergapku, kerena aku lihat kelompok yang saat ini para pemudanya siap untuk merebut kepemimpinan negeri adalah pemuda-pemuda yang tampaknya bersifat sektarian. Kelompok yang saya lihat justru akan membahayakan pluralitas dan toleransi di negeri ini.
Ahhhh....Indonesiaku, tampaknya malang benar nasibmu saat ini. Tapi aku tidak akan pesimis, aku berjanji akan memberikan kontribusi yang maksimal bagi bangsaku, bagi rakyat Indonesia, dan demi pluralitas di negeri ini.